Pojok Buya

Buya Hamka Memulihkan Kemanusiaan Kita

Tulisan ini tidak banyak menyajikan teori-teori sosio-politik dan relevansi pendidikan agama dalam kehidupan kita, namun mencoba menyajikan sebuah pertanyaan-pertanyaan keberagamaan bagaimana kita hidup yang selama ini dalam timangan agama kita, selama kita menempuh pendidikan dan bermajelis kepada guru ngaji.

Seolah-olah hidup ini adalah kekuasaan terhadap diri sendiri, kuasa memenuhi keinginan diri berpegangan kepada dunia dengan cara yang keliru dengan ini semua kita bekerja sesuai hawa nafsu dunia seperti menendang, memaki serta menghakimi yang sebetulnya bukan hak kita dalam penghakiman.

Menghakimi adalah tugas Tuhan, manusia hanya cukup pada sampai mengingatkan dan memberitahu. Namun dengan cara mengingatkan dan memberitahu ini kita seringkali berperan seperti dewa.

Pendidikan agama

Peran pendidikan agama kita sejauh ini belum berdampak besar pada kemanusiaan kita, masih jauh dalam arti agama sebenarnya, agama dalam KBBI agama yaitu ajaran, atau sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan yang mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta manusia dan lingkungannya, saya meyakini semua agama di Indonesia mengajarkan keindahan dan kedamaian dalam kehidupan.

Penulis berpendapat karena institusi pendidikan kita hanya mengedepankan promosi dan sebagai praktek-praktek usaha untuk kemajuan dan keuntungan institusi dan pribadi. Tidak ada cita-cita untuk kemajuan peradaban dan kemajuan bangsanya.

Pendapat dari menulis demikian, karena penulis melihat bagaimana praktek promosi di setiap sekolah-sekolah kita begitu menarik, dan setelah pada prosesnya minim substansi pendidikan kemanusiaan. Mengapa peran agama di pertanyakan dalam tulisan ini?

Karena kehidupan beragama dalam keseharian kita tidak bisa dilepaskan, namun karena agama telah dimonopoli oleh berbagai kepentingan maka dari itu penulis memiliki keinginan mengembalikan ghiroh keberagamaan kita dalam dunia pendidikan melalui tulisan yang mana keagamaan ini yang dapat melihat kita kepada kaum-kaum yang tak berdaya, kaum-kaum yang tertindas, yang mengedepankan kemanusiaan adab itu sangat perlu, maka dari itu peradaban yang damai sangat membutuhkan adab-adab yang beragama.

Dalam buku dialog bersama Paulo Freire sekolah kapitalisme yang licik “dewasa ini ada upaya memanfaatkan pendidikan tinggi sebagai elemen praktis, bukan untuk perubahan sosial, tetapi sebagai sarana penegasan regresi” dalam banyak kepentingan praktis seringkali kita mengabaikan esensi pendidikan yang seharusnya.

Habluminallah, habluminanaas memang tidak bisa disamakan dalam pemenuhan kebutuhan iman akan tetapi untuk mencapai adalah ketika hal itu dapat diimplementasikan sebagaimana mestinya untuk puncak ketakwaannya tidak hanya spritual-individual melainkan sosial-spritual.

Terlepas dari yang saya terangkan dalam tulisan saya diatas dalam pendahuluan adalah mereka para penghakim dan yang suka kekerasan, mereka itulah wajah-wajah yang lahir dari pendidikan kita. Sebetulnya dengan berbagai kultur yang ada, kita sudah bisa belajar sedari dini dari dalam bahwa kita harus saling mengasihi dan saling menyayangi dalam berbangsa. Maka dari itu kemanusiaan perlu dipulihkan dengan kesadaran dari dalam diri kita menetapkan Tuhan dalam batin dan hati kita.

Memulihkan kemanusiaan

Memulihkan manusia perlu ditanam dalam dunia pendidikan di dalam institusi atau pendidikan dalam keluarga, karena sejauh ini pendidikan tidak telalu signifikan dalam memajukan kemanusiaan, maka konsep pendidikan di kita perlu mengedepankan adab dan hakikat kebebasan dalam menghargai sesama manusia, jika selama ini cenderung feodal maka prospek pendidikan kita akan terus melahirkan generasi-generasi yang memerintah yang akan melupakan nilai-nilai kemanusiaannya.

Sebaik-baiknya manusia adalah yang bisa merawat amarahnya, amarah berpangkal pada hati dan urat itu akan mengalir pada tangan dan tangan itu akan memukul, setelah dari hati ia akan mengalir pada kaki dan kaki itu akan menendang setelah dari hati amarah itu akan mengalir kepada mulut dan dari mulut itulah manusia akan mudah mencaci dan memaki.

Masyarakat kita seringkali tidak pandai dalam merawat amarahnya dengan berbagai tanggungan dan memiliki tanggung jawab yang berbeda kerapkali mudah terserang amarah mudah menyerang siapa saja, tidak hanya sesama manusia melainkan hewan pun kena timpuk.

Buya Hamka dalam bukunya Ahlaqul Karimah hak dan kewajiban seorang mukmin membagikan kewajiban kedalam 4 bagian yaitu: kewajiban kepada diri sendiri, kewajiban kepada orang lain yaitu kesopanan masyarakat. Kewajiban kepada Allah, yaitu kesopanan kepada agama, kewajiban kepada binatang, yaitu kesopanan belas kasihan.

Buya Hamka tidak hanya mementingkan kemanusiaan melainkan kepada bianatang pun manusia diwajibkan untuk toleran dan saling menanamkan niali-nilai saling mengasihi, dan dengan itu kita mempunyai kesopanan belas kasihan. Sedangkan dalam hak diri dan masyarakat Buya Hamka mengatakan di antara manusia terdapat manusia dengan dua sifat yang berbeda.

Yang pertama, sifat mementingkan diri sendiri dan kedua, sifat mementingkan masyarakat. Sifat mementingkan diri sendiri ialah bekerja dan bertanggung jawab untuk diri sendiri demi keuntungan dan kepuasan diri sendiri, suka menyendiri, dan tertutup sebagai orang yang egois. Sebaliknya sifat mementingkan masyarakat ialah mendahulukan kepentingan orang banyak, bersedia mengorbankan waktu dan tenaga demi kesejahteraan masyarakat.

Dalam hal ini sebetulnya perlu adat atau hukum yang mengatur masyarakat agar tidak terjadi konflik atau mengatur kehidupan di masyarakat, akan tetapi itu bukan lagi keperluan di negara kita karena sistem peraturan itu sudah ada, dari mulai adat lokal sampai dengan adat nasional.

Namun, dalam hal ini perlu dibenahi dan dipertanyakan kekuatan hukum kita sejauh ini. Jangan hanya melindungi kaum egoisme atau bagi mereka pembuat hukum, mereka pula yang melanggarnya. Maka dari itu melalui pendidikan kita perlu mempelajari kemanusiaan tidak hanya sebatas sampai teori melainkan harus sampai kepada masyarakat.

PENULIS: WIKKA ESSA PUTRA

Sumber

You may also like