Pojok Buya

Demokrasi Di Tangan Pengais Rezeki

Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Bulan Mei 1960, sebuah artikel dalam majalah Panji Masyarakat pimpinan Prof Hamka telah menggoyang hegemoni kekuasaan saat itu. Di bawah judul “Demokrasi Kita”, Bung Hatta mengatakan bahwa demokrasi bisa tertindas buat sementara karena kesalahan para pendukungnya yang tidak bertanggung jawab, tetapi ia tidak bisa dibunuh. Dalam hubungannya dengan sejarah modern Indonesia, Bung Hatta secara kategoris menegaskan bahwa lenyapnya demokrasi berarti lenyapnya Indonesia merdeka. Demikian kuatnya kepercayaan Bung Hatta terhadap sistem demokrasi sehingga tidak bisa dipisahkan dengan kelangsungan kemerdekaan bangsa. Semua orang sepakat, Hatta adalah demokrat sejati dalam teori dan praktik.

Sekitar pertengahan abad yang lalu, para pengikut Hatta bertebaran di kalangan Partai Masyumi, Partai Katolik, Partai Sosialis Indonesia, Partai Nasional Indonesia, Partai Kristen Indonesia, dan di lingkungan partai-partai lain. Figur Hatta adalah primadona bagi kaum demokrat Indonesia. Hanya PKI (Partai Komunis Indonesia) saja yang secara terang-terangan bersikap anti-Hatta, karena tokoh kelahiran Bukittinggi ini memang tidak pernah percaya kepada kesetiaan partai ini kepada nasionalisme Indonesia. Hatta adalah Bapak Demokrasi Indonesia yang sangat menjunjung tinggi moralitas dalam politik. Titik kelemahan Bung Hatta terletak pada kekurangsabarannya untuk bertahan pada suatu posisi penting penyeimbang di saat kecenderungan kekuasaan ingin mengebiri demokrasi.

Hatta adalah juga seorang asketis saat berhadapan dengan kekuasaan. Bangsa ini beruntung karena punya pemimpin teladan yang susah dicarikan gantinya, tetapi pasti ada yang menyusul. Manusia-manusia biasa yang telah berbuat luar biasa seperti yang telah ditampilkan dalam acara Kick Andy Metro TV, Maarif Institute, dan MNCTV, memberi optimisme bahwa di tangah-tengah kebisuan nurani, masih banyak anak bangsa yang tidak larut dalam perilaku “berebut tulang” itu. Diri mereka lebur untuk kepentingan orang banyak.

Jika kita coba berdialog secara imajiner dengan ruh Bung Hatta tentang situasi demokrasi di era reformasi di tangan para pengais rezeki, Bung Hatta tentu sangat kasihan menonton perilaku mereka itu. Alangkah rendahnya tingkat keadaban politik mereka. Sistem demokrasi yang secara teori adalah untuk menegakkan keadilan dan menyejahterakan rakyat secara keseluruhan, mengapa kini telah diubah menjadi sarana untuk “berebut tulang.” Keteladanan musnah, rasa tanggung jawab hilang, nurani lumpuh, akal sehat ditindas, dan yang tersisa adalah kepura-puraan yang dibungkus dengan senyum palsu dan sangat menyebalkan. Jangan dikira rakyat banyak tidak menyimak dengan seksama kemunafikan politik ini. Dalam hati mereka berkata: “Hentikan semuanya ini, jika tidak, kami pasti akan menghukum. Demokrasi jangan dijadikan barang mainan. Taruhannya adalah bangsa dan negara yang setengah telantar ini.”

Ruh Hatta tentu akan mengentak: “Hai, bangsaku! Berhentilah bertanam tebu di bibir, tidak ada gunanya, toh yang busuk pasti akan terbau, yang culas akan terbongkar, cepat atau lambat. Hanya masalah waktu.” Demokrasi bagi para pecundang ini tidak lebih dari sarana untuk memperbaiki dapur, memperbesar rumah, ganti mobil, atau menambah pasangan. Pengap sekali kelakuan mereka itu. Tetapi, Hatta tentu tidak menyesal telah memilih demokrasi untuk Indonesia merdeka, sebab pada saatnya demokrasi yang sehat dan kuat itu pasti akan menjadi masa depan kita semua. Oleh sebab itu, para demokrat sejati jangan sampai termakan ilusi konyol bahwa sistem otoritarian lebih baik dari demokrasi. Yang perlu dikerjakan bersama secara berani sekarang dan seterusnya adalah mengusir dan menghalau virus-virus jahat yang ditempelkan pengais rezeki itu pada tubuh demokrasi yang menyebabkan tubuh itu sakit dan merana.

Akhirnya, yang perlu diwaspadai dan diprihatinkan adalah sikap pemilih pemula yang jumlahnya di atas 30 persen tampak lesu darah untuk turut memilih karena melihat perjalanan demokrasi yang cacat moral di tangan politisi yang tidak bertanggung jawab. Padahal, generasi muda ini sesungguhnya sangat berkepentingan bagi tegaknya sebuah bangunan demokrasi yang sehat, sebab dalam tenggat waktu 15-20 tahun yang akan datang merekalah yang akan menjadi pemain utama di panggung perpolitikan nasional dan daerah. Demokrasi selalu memerlukan stamina spiritual yang prima dari para pendukungnya, tidak boleh patah harapan, sekalipun sungguh melelahkan.

Sumber: Resonansi REPUBLIKA.CO.ID

You may also like