Review Film

First Man: Yang tak Terkatakan dari Seorang Neil Armstrong

Foto: Universal Pictures

Oleh Efri Aditia

Agak sulit menonton First Man. Waktu tayangnya dilematis. Pukul 18.20 WIB dan 21.25 WIB. Yang pertama tanggung Magrib. Yang kedua kemalaman. Jadwal ini merata di semua twentiwan di Bekasi. Tapi karena penasaran sekali, saya nonton juga. Telat 30 menit saat saya duduk di bangku penonton.

First Man adalah film biopik Neil Armstrong. Nama ini bisa disejajarkan dengan Pele dan Maradona sebagai nama yang menggema di sudut-sudut bumi. Bukti hal ini sudah saya rasakan dahulu pas masih menginap di kos saat teman saya menunjuk foto Einstein sebagai Armstrong. Lucu juga kalau diingat-ingat.

First Man adalah film yang menusuk ke dalam. Damien Chazelle, sang sutradara, memaparkan sisi-sisi batin Neil (Ryan Gosling) saat menjalani tahap demi tahap proyek prestisius pergi ke bulan dengan Apollo 11.

Hawa batin itu terasa sekali dalam setiap adegan yang dilakoni Neil dan Janet, istrinya (Claire Foy). Mereka mengatakan banyak hal lewat tatapan, gesture, dan intonasi bicara. Adegan lain di luar itu mendukung hawa batin lewat kerasnya tekanan dari Gedung Putih, protes masyarakat Amerika kala itu, juga dalam setiap adegan yang berisi bejibunnya kegagalan tim Apollo 11 dalam menaikkan setiap persen keberhasilan mereka untuk sukses.

Siapa yang sudah menonton Whiplash dan merasakan ketegangan yang konstan akan mengalami hal itu lagi saat menonton film ini. Ya, Damien Chazelle sukses membuatnya kembali dengan close up dan gerak kamera yang intim. Ini membuat kita tahu betapa sukarnya posisi Neil, istrinya, keluarganya, juga teman-temannya.

“Apakah Ayah akan kembali?” ujar putra Neil saat sang ayah pamit.

“Kami berencana untuk kembali,” jawab Neil yang separuh dirinya berpikir akan mati.

Semua kegundahan dan ketegangan yang lebih sering tak terkatakan ini menurut saya demikian indah berjalan.
Film ini bisa saja memilih untuk lebih “keluar”. Dengan mengisahkan kepahlawan, kesuksesan yang tak tersaingi, tepuk tangan membahana, atau adegan kebahagiaan dengan pelukan massal. Tapi Damien Chazelle memilih menampilkan air mata Neil sangat ia memandang kawah di bulan yang gelap dan dalam. Juga saat jarinya ia dekatkan ke kaca yang memisahkan ia dengan istrinya.

Selepas menonton saya berpikir bagaimana kalau Neil tak pernah ke bulan? Semua kegelisahan, kegundahan, dan ketegangan itu sebenarnya hanya imbas dari proyek kebohongan besar?

Aaah…sebodo amat, pikir saya.

Penulis adalah seorang jurnalis cum penyair yang kini menjadi saudagar 9 bahan pokok.