Seni & Budaya Sosok

Kintani Putri Medya dan Heru Joni Putra, Idola Milenial Payakumbuh

Payakumbuh – Kintani Putri Medya, sebagian orang Minang menyebut artis Minang yang memiliki wajah mirip Raisa. Sedangkan Heru Joni Putra adalah penyair Indonesia asal minang yang sedang naik daun.

Pertama kita tengok sosok Kintani, akrab disapa Tatan, menuai popularitas melalui Youtube. Tatan memiliki kualitas vokal tak kalah dengan Raisa. Spesialisasinya adalah lagu-lagu pop berbahasa Minang. Motivasinya tak lain mengenalkan budaya Sumatera Barat ke seluruh Indonesia. Musik sebagai sarananya.

Tatan tak segan-segan mengaku mengidolakan Bunga Citra Lestari (BCL). Menurutnya, BCL adalah penyanyi paket lengkap. Selain punya suara merdu, BCL juga jago akting. Ia pribadi sering menyanyikan lagu-lagu BCL dalam banyak kesempatan.

Tatan yang cantik ini lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat, 19 tahun lalu. Sebelum tampil di dunia tarik suara, Tatan ternyata juga telah merebut sejumlah prestasi di bidang tari.

Sejak duduk di bangku SMP, ia sudah beberapa kali keluar sebagai juara tari tingkat kota dan provinsi Sumatera Barat. Tatan juga pernah terpilih sebagai juara III dalam pemilihan Duta Songket Sumbar, 2015. Pada tahun yang sama, Tatan juga terpilih sebagai Uni Favorit Kota Payakumbuh.

Lantas, siapa Heru Joni Putra? Heru adalah sastrawan muda yang tanah kelahirannya sama dengan Tatan, Payakumbuh. Tahun lalu ia menerbitkan buku puisinya yang berjudul Badrul Mustafa, Badrul Mustafa, Badrul Mustafa (2017). Dari karyanya itu, Heru mencoba mengolah ragam peribahasa, pepatah maupun pantun ke dalam metafor sajak kini. Kita menemukan suatu ‘bentuk’ yang boleh dikata segar dan terbilang kaya menautkan asosiasi dengan karya-karya bahasa Nusantara.

Menurut catatan budaya Bentara Jakarta, Heru secara jelas memberikan petunjuk bagi pembaca untuk menautkan asosiasinya dengan peribahasa-peribahasa tertentu, seperti yang tertera dalam puisinya yang berjudul Ada Garam Ada Semut, Katak di Atas Tempurung, Gajah di Seberang Lautan dan Semut di Seberang Lautan ataupun yang bertajuk Udang di Depan Batu.

Tentu, menarik untuk menelisik seperti apa poses kreatifnya dalam mengolah kekayaan bahasa Nusantara ini ke dalam puisi-puisi baru suatu upaya yang tentu membutuhkan keberanian dalam memberi makna ulang bagi ragam susastra yang sudah terlanjur melekat dalam benak pembaca di Indonesia.

Heru yang gagah itu hadir di tanah Minang pada 13 Oktober 1990, di Payakumbuh, Sumatera Barat. Selain aktif berkebudayaan, ia sekarang belajar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Bergiat di Kandangpadati, Ranah PAC, dan Studiohanafi.

Buku puisinya Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa tampil sebagai Lima Besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kategori Puisi serta mengantarkannya sebagai Tokoh Seni Pilihan TEMPO 2017.

Sungguh mereka sangat cocok hidup bersama, bukan? Semoga berjodoh Heru dan Tatan. Amin kan!

You may also like