Sosok

Tentang Baridin yang Gila dan Riki Dhamparan Putra

Syahdan, seperti kisah-kisah cinta zaman baheula, tersebutlah seorang pemuda asal Cirebon bernama Baridin, seorang pria miskin. Baridin mencintai seorang perempuan elok rupa bernama Suratminah.

Singkat kisah, orang tua Suratminah menolak pinangan Baridin. Tak ambil pusing, lalu Baridin memilih jalan pintas untuk mendapatkan Suratminah. Ia menggunakan mantra Jaran Guyang dan melakukan puasa empat puluh hari agar niatnya untuk menggaet Suratminah terkabul. Di akhir cerita, keduanya gila.

Baridin dan Suratminah adalah cerita rakyat popular di Cirebon yang dibawakan dalam pertunjukan Tarling. Masyarakat di sana percaya, kubur Baridin dan Suratminah ada di Gegesik, Cirebon, namun di mana keberadaan kuburan tersebut tak kunjung jumpa.

Mencari Kubur Baridin adalah tajuk buku kumpulan puisi Riki Dhamparan Putra (AKAR, 2014), merangkum 55 karya puisi yang diciptakan tahun 2004 hingga 2014. Sepuluh tahun sebelumnya, Agustus 2004 ia meluncurkan buku kumpulan puisi pertamanya yang bertajuk Percakapan Lilin di Danes Art Veranda, Denpasar, Bali. Peluncuran buku puisi tersebut dihadiri berbagai kalangan, seperti sastrawan, perupa, mahasiswa, dan juga para aktivis LSM.

Riki dikenal sebagai sastrawan petualang yang banyak penggemar. Ia lahir di sebuah dusun di kaki gunung Talamau, Sumatera Barat pada 1 Juli 1975, sosok sastrawan dan budayawan Indonesia yang juga memiliki cakrawala luas.

Ia mulai menulis kreatif semenjak di bangku SMA tahun 1991. Dimuat antara lain di Koran Semangat, Singgalang dan Canang yang terbit di Padang. Tahun 1992, mendirikan komunitas sastra Elindra yang berlokasi di daerah tambang batubara Lumpo, Sumbar, bersama Raudal Tanjung Banua dan teman-teman seangkatan.

Pada tahun itu juga ia diskor sekolah karena dituduh sebagai pembangkang kesenian. Ia memutuskan berhenti dari SMA dan mulai berladang. Menanam kayu manis, jeruk, cabe di tanah ibunya di Pesisir Selatan. Tapi itu semua ditinggalkan sebelum tumbuh besar. Ia merantau ke Bali, tahun 1994. Di sana ia pernah menjadi loper koran, buruh instalasi pipa air, tukang pukul di sebuah panti pijat, tukang parkir, pelayan rumah makan, dan berbagai pekerjaan serabutan lain demi bertahan hidup.

Ia juga berkenalan dengan seniman Bali yang berada di Sanggar Minum Kopi. Juga memiliki masa belajar yang cukup panjang dengan Umbu Landu Paranggi. Tahun 1997, mendirikan komunitas apresiasi Selakunda di Tabanan.

Puisinya tersebar di banyak media massa dan jurnal sastra, seperti Bali Post, Kompas, Rumahlebah Ruang Puisi, Koran Tempo, Jurnal Puisi, Singgalang, Semangat dan lain-lain. Sampai sekarang ia produktif menulis esai dan feature budaya, juga pernah menjadi redaktur beberapa majalah di Jakarta; AND, Kultur dan Kulturpedia.

Sejak tahun 2007 Riki rajin melakukan perjalanan budaya ke Indonesia bagian Timur dan turut menggagas atau sebagai pendiri sejumlah komunitas atau asosiasi seperti Rumah Poetica Kupang dan Asosiasi Sastra Kepulauan Indonesia Timur. Sejak tahun 2009 bermukim di Jakarta. Ya, Jakarta, kota yang pernah tertulis dalam sajaknya, Cerita Petang:

Tau tau sudah petang di Jakarta

Apa mau dikata

Walau sedih baiklah diterima saja.

(redaksi-dk)

You may also like