Sosok

Wisran Hadi, Budayawan Minang Maha Guru Penulis Naskah Drama di Indonesia

Oleh: Eric Yurio Emile, Alumni INS Kayutanam dan Lulusan Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung

Sosok Wisran Hadi bagi kalangan sastrawan dan pekerja seni teater merupakan sosok yang sangat produktif dalam melahirkan karya-karya yang monumental. Jika ditilik lebih jauh, karya-karya Wisran selalu memadukan secara apik antara sastra tinggi sebuah naskah drama, ke dalam bentuk pementasan. Selain itu, dalam karya-karyanya selalu mengandung unsur lokalitas, menggigit, dan kritis.

Pada setiap genre sastra selalu saja terjadi pembaruan yang dilakukan oleh pencipta, begitu juga pada karya drama. Salah satu penulis karya sastra drama yang melakukan hal itu adalah Wisran Hadi, dramawan yang sudah dikenal dalam skala nasional maupun internasional. Kecenderungan Wisran dalam melahirkan karya-karya dramanya selalu berpijak pada sesuatu yang bersifat lokalitas dan tradisi, yang hidup di tengah masyarakatnya, yaitu Minangkabau.

Karya-karya Wisran bukanlah karya yang mengukuhkan tradisi, tetapi karya tersebut bertolak dari pemahaman terhadap tradisi dalam melihat kenyataan yang ada di tengah masyarakat. Wisran Hadi dalam setiap teks dramanya selalu bertolak dari cerita rakyat (kaba), mitos, dan legenda yang ada di Minangkabau, Sumatera Barat.

Dalam karya Wisran Hadi tersebut terjadi proses defamiliarisasi, yaitu bagaimana usaha pengarang untuk melahirkan unsur-unsur luar biasa dengan melakukan perubahan terhadap teks yang telah dibacanya, seperti penyimpangan segi makna atau perubahan peranan watak dalam sebuah karya.

Dua belas naskah drama Wisran Hadi merupakan pemenang sayembara Penulisan Naskah Drama Indonesia yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta dari tahun 1976 sampai dengan tahun 1985 dan juga pada tahun 1998. Tiga belas naskah dramanya yang lain diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayan RI. Puti Bungsu dan Anggun Nan Tongga diterbitkan oleh Pustaka Jaya dan Balai Pustaka Jakarta.

Naskah Jalan Lurus mendapat Hadiah Sastra 1991, yang diberikan oleh Pusat Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Buku yang sama juga mendapat penghargaan sebagai naskah drama terbaik pada Pertemuan Sastrawan Nusantara IX tahun 1997. Naskah drama Imam Bonjol sendiri merupakan pemenang Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Indonesia yang dilaksanakan oleh Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1980.

Pada tahun 1977, Wisran Hadi mengikuti International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat. Tahun 1978 melakukan observasi teater modern Amerika. Pada tahun 1987 kembali ia melakukan obsevasi teater modern Amerika dan Jepang. Tahun 2000, ia kembali mendapat penghargaan South East Asia (SEA) Write Award yang diberikan Kerajaan Thailand.

Di samping dikenal sebagai penulis naskah drama, Wisran Hadi juga merupakan penulis novel, cerpen, dan esai tentang kebudayaan. Dalam mewujudkan naskah dramanya dalam bentuk pementasan, Wisran Hadi juga sosok sutradara yang handal dan profesional.

Wisran memimpin grup “Bumi Teater” yang telah mementaskan karya-karyanya di Taman Ismail Marzuki, di Malaysia, dan beberapa kota besar lainnya di Indonesia. Wisran Hadi, Budayawan Indonesia ini dapat juga disebut sebagai Maha Guru penulis naskah drama Indonesia. Beliau wafat pada 28 Juni 2011 di Padang. Siapakah sekarang penerus Wisran Hadi?

You may also like