Seni & Budaya

Ambo Antara Menjadi Minang atau Padang?

Rezky Dwiantoro

Alumni UMM

Sekelumit hal kecil yang kerap dialami oleh para perantau awal Minang ketika berada di daerah rantaunya, dengan idealisme diri yang masih melekat kuat, selalu terpantik dengan pertanyaan-pertanyaan perkenalan dari lawan bicara, seperti “orang Padang, ya? Padangnya di mana?”.

Penulis yang merupakan perantau Minang pun kerap mengalami hal serupa ketika berada di daerah rantauan, dan mulai berfikir perihal pertanyaan ini, apakah hanya penulis yang menerima pertanyaan ini?  Ataukah teman-teman perantau lainnya juga mengalami hal yang sama? Ataukah ini bentuk kemalasan orang di luar Minang dalam memahami lebih lanjut asal daerah lawan bicaranya?

Sedikit menarik mundur ke-masa kedatangan Belanda ke Indonesia pada tahun 1596, kapal yang digunakan Cornelis de Houtman untuk berlayar kala itu, bersematkan tulisan De Hollander (Orang Belanda), yang memperlihatkan sebuah identifikasi seseorang terhadap daerah asal mereka. Namun, berbeda dengan Indonesia disaat itu yang masih memegang teguh kesukuannya, identifikasi yang dibawa oleh Cornelis de Houtman merujuk kepada suatu wilayah atau daerah. Seiring dengan kuatnya pengaruh Belanda terhadap Hindia Belanda  kala itu, hal ini turut mempengaruhi pandangan-pandangan Hindia Belanda terhadap sebuah nilai identifikasi diri yang berdasarkan asal wilayah atau kota.

Padangsch nieuws- en advertentie-blad, 26-04-1862

Terlihat pada sepenggal tajuk difoto, yang bertuliskan perihal sebuah penerangan, seorang penulis pesan yang menyematkan identitas dirinya sebagai “Padanger” pada tahun 1869 di Kota Padang.  Hal ini dapat diasumsikan jika penyematan identitas diri terhadap wilayah lebih dipilih masyarakat Hindia Belanda kala itu, daripada penyematan menggunakan kesukuan yang telah diwariskan oleh nenek moyang secara turun-temurun

Dilain hal, dahulu guru-guru semasa sekolah dasar kerap bercerita perihal kota Padang yang jauh dikenal di luar Sumatera daripada kota Bukittinggi, terlebih semasa perang, Bukittinggi sempat menduduki posisi Ibukota Indonesia Darurat kala itu dengan Syafrudin Prawiranegara sebagai pimpinannya. Kisah ini dimulai ketika sebuah perang berkecamuk dan meledaknya sebuah bom yang sangat besar di Kota Padang, sehingga berita akan meledaknya bom ini menjadi kabar burung yang banyak dibahas oleh masyarakat di Pulau jawa kala itu, sehingga nama Padang terangkat lebih tinggi dari pada nama Kota Bukittinggi. Namun tetap saja, penulis masih belum menemukan literasi yang cukup untuk menguatkan argumen yang telah diwariskan secara turun-temurun ini.

Namun bila penulis mengaitkan dengan sebuah teori komunikasi, dimana ada komunikator (pembawa pesan), komunikan (penerima pesan), pesan, barrier dan field experience. Lawan bicara yang kerap bertanya perihal “orang Padang, ya?, Padangnya, di mana?” merupakan suatu cara yang dilakukan seseorang untuk mencapai suatu field experience, agar komunikasi yang dilakukan menjadi lebih baik. Karena, pada bagian field experience atau kesamaan pengalaman, dapat menjadi salah satu tolak ukur baiknya jalan komunikasi interpersonal atau tidak, dengan semakin kuat field experience yang terbentuk, maka akan semakin baik komunikasi antarpesonal yang tengah berlangsung.

Tidak ada yang tahu pasti pelabelan orang Minang menjadi orang Padang dimulai sejak kapan, dan belom ada penelitian lebih jauh juga, perihal pelabelan ini dimulai. Namun, meluangkan waktu untuk mengedukasi lawan bicara, tidak akan menghabiskan waktumu  seharian.

Jadi, Ambo ini Minang atau Padang?

Sumber:

https://tirto.id/indonesia-dijajah-belanda-gara-gara-cornelis-de-houtman-cM3v

https://tirto.id/indonesia-dijajah-belanda-gara-gara-cornelis-de-houtman-cM3v

http://poestahadepok.blogspot.com/2017/04/sejarah-kota-padang-14-orang-padang.html

You may also like