Seni & Budaya

Dari Tanah Abang, Rumah Makan, hingga ke Fotokopian

Oleh : Rezky Dwiantoro

Bila terdapat sebuah ungkapan “jika kelak Bulan dapat didiami oleh manusia, maka warung Nasi Padanglah yang pertama kali akan berjualan di sana”. Sepertinya ungkapan ini bukanlah omong kosong saat ditongkrongan saja.  Lebih jauh, jika kita masing-masing peka terhadap ruko-ruko yang berada dipinggir jalan, dan coba menghitung jumlah warung Nasi Padang yang telah dilewati saat menuju kantor atau kampus, ternyata cukup banyak warung Nasi Padang dan bahkan masih berada dalam satu kawasan, mulai dari warung berukuran kecil hingga restoran berukuran besar seperti Sederhana.

Invasi bisnis kuliner para perantau Minang cukup terkenal memang, bahkan mampu bersaing dengan kuliner-kuliner asli daerah itu sendiri. Namun tidak cukup di sini saja, invasi lain perantau Minang juga mengalir hingga ke bisnis konveksi, hal ini sudah menjadi hal yang sangat dipahami bagi mereka yang kerap berkunjung ke daerah Tanah Abang di Jakarta Pusat, memperlihatkan peran yang cukup besar dari perantau Minang dalam menumbuhkan pasar Tanah Abang dan Thamrin, lewat bisnsi konveksinya.

Dua hal ini sangatlah meyiratkan bahwa perantau Minang sangat lekat dengan perniagaan barang. Dilain hal, apakah kita sempat terfikirkan bahwa perantau Minang akan dekat dengan perniaagaan jasa? Bisa jadi, namun pertanyaan ini akan terjawab langsung oleh sebuah tugu photocopy yang berada di daerah Kenagarian Atar, Kabupaten Tanah Datar.

 

https://travel.detik.com/Sebuah tugu yang berada di samping Kantor Wali Nagari Atar ini memperlihatkan kesuksesan para perantau Minang lewat sebuah jasa photocopy. Mungkin tidak banyak bagi kita yang menyadari akan hal ini, namun bagi mahasiswa/mahasiswi Bandung akan terasa sangat akrab. Diawali dari seorang perantau Minang bernama H.Yuskar yang berasal dari kenagarian Atar, beliau mencoba peruntungan dengan membawa kemampuan dibidang photocopy ke Negeri Pasundan. Setelah berjuang, kesuksesanpn ditemui di Bandung lewat sebuah bisnis jasa photocopy, hingga hal ini yang memotivasi H.Yuskar untuk mengajak orang-orang di kampungnya untuk turut merantau ke Bandung dengan membuka bisnis dibidang yang sama. Perantau yang dibawapun mencapai kesuksesan mereka, hingga hal ini turut memotivasi mereka untuk membawa sanak saudara yang berada di kampung untuk melakukan hal yang sama juga, hingga menjadi suatu kebiasaan dan secara tidak sadar menciptakan lingkungannya sendiri di daerah rantauan lewat bisnis photocopy. Sehingga tugu Photocopy yang dibuat inipun menjadi suatu symbol kesuksesan para perantau Kenagarian Atar di Negeri Pasundan.

Pada waktu yang berbeda, penulis mencoba bertanya kepada pemilik Limbanang Photocopy perihal asal muasal perantau Minang identik dengan bisnis photocopy. Beliau bercerita jika dahulu sebelum photocopy berkembang, para perantau telah menekuni bidang photography, tepatnya photo studio. Sekitar tahun 1997-an cukup banyak photo studio yang dimiliki oleh perantau Minang di Jakarta ucapnya. Namun, jaman telah berubah saat akan memasuki tahun 2000-an, kamera yang berbasis digital sudah menjamur dan disertai dengan sudah banyaknya perusahan komunikasi menciptakan handphone yang dilengkapi dengan fitur kamera, sehingga minat orang-orang untuk menghasilkan sebuah dokumentasi cetakpun berdampak menurun. Hal inilah menjadi cikal perubahan bisnis perantau dari jasa photo studio menjadi jasa photo copy, jika ditanya kenapa memilih bisnis photocopy daripada bisnis lainnya, pemilik photocopy ini mengatakan bisnis photocopy terasa mudah dan tidak membuat letih, walaupun perlembarnya hanya Rp 100,-, namun repetisi yang dihasilkan cukup tinggi, sehingga menghasilkan laba yang besar, serta yang dijual di toko tidak hanya  jasa photocopy, tetapi juga terdapat barang lainnya seperti perangakat ATK. Pemilik toko inipun turut menambahkan, hal ini juga didukung dengan kebiasaan perantau Minang yang suka ikut-ikutan, jadi saat awal tahun 2000-an itu banyak yang ikutan beralih dari photo studio menjadi photocopy, makanya wajar jika orang-orang banyak menemukan perantau Minang yang buka toko photocopy dalam satu waktu.

 

Sumber: https://travel.detik.com/domestic-destination/d-4507870/bikin-heboh-dunia-maya-tugu-photocopy-ini-sungguhan-ada

You may also like