Kabar

Mubes Ke-1 IKARPINS, Bangga Menjadi Alumni INS Kayutanam

Syahdan, INS Kayutanam adalah lembaga pendidikan yang berdiri sejak zaman Belanda, tetapi dengan sistem pendidikan di luar Belanda. INS (Indonesisch-Nederlandsche School) didirikan oleh Muhammad Sjafei pada 31 Oktober 1926. Saat itu dan mungkin sampai sekarang, INS Kayutanam melaksanakan pengajaran praktik yang berasal dari rakyat dan untuk rakyat banyak.

Hingga kini INS masih berdiri sebagai sebuah SMA swasta dengan akreditasi A yang bernaung di bawah Yayasan Badan Wakaf Ruang Pendidik INS Kayutanam. Terletak tak jauh dari jalan raya Padang-Bukittinggi, Sumatera Barat.

Petrik Matanasi (Tirto, 2 Mei 2018) pernah menguraikan, dari sekolah ini pernah belajar Ali Akbar Navis atau A.A. Navis (1924-2003) yang terkenal dengan karya Robohnya Suarau Kami (1966)—satu karya yang cukup diperbincangkan di dunia sastra Indonesia. Selain sastra, Navis juga pernah menulis biografi seorang pengusaha berdarah Padang, Hasyim Ning.

Mochtar Lubis (1922-2004), menurut Atmakusumah dalam Mochtar Lubis, Wartawan Jihad (1992: 52), pernah belajar di sana sejak 1935 setelah lulus dari SD elite pribumi berbahasa Belanda, Hollandsche Inlandsche School (HIS), seperti anjuran ayahnya sendiri. Ia belajar ekonomi di sana.

“Kami tidak diajarkan bahasa Belanda, melainkan bahasa Inggris, Jerman, Prancis,” aku Mochtar Lubis dalam Mochtar Lubis Bicara Lurus: Menjawab Pertanyaan Wartawan (1995: 114).

Ketika orang-orang yang memuja perspektif Indonesiasentris asyik dininabobokan oleh pembelajaran sejarah yang Belandasentris, Mochtar Lubis dan kawan-kawan termasuk yang sudah belajar dengan sudut pandang orang Indonesia. “Di sana kami diajari sejarah yang lain dari sejarah di sekolah-sekolah Belanda. Sejarah dilihat dari perspektif perjuangan orang Indonesia,” tuturnya.

Seingat Lubis, para guru di sana punya cita-cita tinggi: mendidik pemuda Indonesia bisa mandiri. Tak heran jika disiplinnya ketat. Tak ada kesempatan bermanja-manja bagi anak orang kaya di sini. Mereka diajarkan disiplin.

Kebiasaan itu terbawa oleh Lubis yang mengaku selalu bangun jam 05.00. Uang jajan para siswa dibatasi dan pulang ke rumah hanya setahun sekali. Tiap liburan, murid-murid dimagangkan di perkebunan-perkebunan. Mereka diajarkan secara nyata bahwa menuntut ilmu tak boleh hanya berhenti di bangku sekolah.

Ada yang menyebut Letnan Jenderal Boestanoel Arifin yang pernah jadi Kepala Bulog di era Orde Baru juga lulusan Kayutanam. Sementara itu, A.A. Navis dalam Filsafat Dan Strategi Pendidikan M. Sjafei hanya menyebut Boestanoel Arifin Adam (hlm. 65). Dia bukan letnan jenderal. Seperti ditulis Ensiklopedi Minang (hlm. 102).

Boestanoel Arifin Adam yang dimaksud Navis ini hanya berpangkat terakhir letnan satu di masa Revolusi. Dia kemudian lebih memilih dunia ilmu pengetahuan ketimbang militer. Pencarian di Google Books dengan kata kunci “Boestanoel Arifin Adam” mengarahkan pada dua buku: Teori musik praktis 1 (1978) dan Talempong: musik tradisi Minangkabau (1986).

“Bekerja sama dengan pengusaha India, Patnaik dan kemudian Hatta Foundation, Sjafei mengirim Boestanoel Arifin Adam belajar pada sekolah musik di Brussel (Belgia). Bekerja sama dengan Sticusa dari Belanda, Sjafei mengirim beberapa bekas muridnya belajar ke Belanda untuk disiapkan menjadi guru pada perguruan,” tulis Navis (hlm. 65).

Di luar tiga penulis itu, ada penulis lain yaitu Mara Karma (1926-2001), yang dikenal sebagai wartawan dan kritikus seni rupa. Ada juga alumni yang jadi birokrat: dokter Tarmidzi Taher (Menteri Agama) dan Kaharudin Nasution (gubernur di Sumatera

Mubes alumni

Pada setiap institusi pendidikan, alumni merupakan salah satu pilar penyokong yang secara tidak langsung akan ikut berperan dalam perjalanan institusi tersebut.  INS Kayutanam pada 31 Oktober 2018 genap berusia 92 tahun.

Ribuan alumni INS yang tersebar di berbagai daerah, bahkan di beberapa negara di dunia, memiliki potensi besar untuk menguatkan perjalanan INS Kayutanam di masa depan.

Karena itu, dengan semangat silaturrahim sehati “Hitam Putih – Basamo Mako Manjadi” pada tanggal 27-28 Oktober 2018, alumni INS mengadakan Reuni Akbar Alumni Lintas Angkatan dan Mubes Alumni INS yang ke 1.

Menurut alumni INS yang menjadi panitia, Rifaldi Ipang, kegiatan ini untuk memperingati HUT INS Kayutanam ke 92,  berlangsung di komplek INS Kayutanam. Diikuti oleh segenap alumni beserta civitas academika INS Kayutanam. Musyawarah Besar Alumni INS Kayutanam akan diselenggarakan pada 28 Oktober 2018.

“Kegiatan ini bertujuan untuk memilih dan menetapkan pengurus Ikatan Alumni Ruang Pendidik INS-IKARPINS periode 2018-2022” kata Ipang.

Dengan terbentuknya pengurus perhimpunan alumni secara legal formal, tambah Ipang, diharapkan alumni INS Kayutanam mampu bersinergi memberikan kekuatan moral, membangkitkan kejayaan INS Kayutanam, kini dan nanti. (Red)

You may also like