Denyut Pojok Buya

Tiga Bulan Bersama Covid-19

Ahmad Syafii Maarif

Usia renta seperti saya (85) tentu lebih rentan dierang Covid-19, sekalipun bayi juga tidak kebal. Sudah tiga bulan saya dan isteri (75) berkurung di rumah, mematuhi anjuran pemerintah yang saban waktu diulang-ulang. Bahkan salat Jum’at pun tidak dilakukan selama tiga bulan itu. Memang di awal Maret 2020, kemenkes terasa kurang siap menghadapi pandemi maut ini. Dikira enteng saja. Kemudian setelah merebak secara masif baru siuman. Tentu dengan korban yang tidak sedikit.

Dr. Achmad Yurianto dari BNPB, jura bicara nasional Covid-19, tampak kelelahan, tetapi semangatnya tidak pernah surut. Bersama Ketua Gugus Covid-19 Jend. Doni Monardo dan jajarannya tentu adalah di antara yang tersibuk sejak tiga bulan terakhir. Begitu juga para dokter dan petugas kesehatan di garis depan, dedikasi mereka sangat tinggi dan mulia. Mereka menyabung nyawa setiap waktu. Saya belum tahu sudah berapa jumlah di antara pahlawan ini yang sudah wafat dalam menjalankan tugas kemanusiaan  di Indonesia. Negara patut benar memberi penghargaan kepada mereka dengan menyantuni keluaga yang terpaksa ditinggal mati ditikam Covid-19.

Wabah tak kasat mata ini benar-benar dahsyat. Dunia kemanusiaan global tidak berkutik dibuatnya. Karena wabah ini juga melumpuhkan perekonomian sebuah negara, maka strategi Normal Baru terpaksa ditempuh, sekalipun dalam pelaksanaannya sungguh tidak gampang. Pertumbuhan ekonomi beberapa negara ada yang 0%. Indonesia tdak akan lebih dari 1%. Memang tantangannya sungguh tak terduga. Rakyat kampung saya di Sumpur Kudus (Sumbar) karena sulitnya hidup saat wabah ini mulai merebak ada yang mau nekat bunuh diri. Alhamdulillah, tidak menjadi kenyataan. Semangat gotong royong untuk berbagi masih hidup.

Sebagai manusia renta antara tanggal 4-6 Juni 2020, saya juga diserang nyeri telinga yang akut dan wabah lain: cikungunya, semacam DBD, tetapi yang diserangnya seluruh persendian. Tidak bisa duduk, apalagi berdiri. Isteri saya Nurkhalifah kehabisan akal bagaimana membantu saya agar bisa duduk, sampai akhirnya anak datang menolong. Setelah darah dicek oleh RS Muhammadiyah  Yogyakarta dengan bantuan para dokter yang sangat bersahabat, ternyata trombosit saya hanya tersisa 97.000, sedangkan angka rujukan 140.000. Beberapa hari kemudian mulai naik jadi 116.000. Ini juga berkat kiriman obat herbal cair asal Cina yang dikirim oleh sahabat saya DR. Sudhamek AWS.

Saat cikungunya menyerang, untungnya saya tidak kehilangan kesadaran, sekalipun pernah terduduk di lantai selama dua jam. Kemudian ketahuan juga bahwa yang diserang itu tidak hanya saya, tetapi juga beberapa tetangga dengan gejala mirip. Rupanya nyamuk cikungunya ini beterbangan ke mana-mana cari mangsa. Ada teman yang harus dirawat di RS, sedangkan dokter juga menyarankan saya dirawat, tetapi karena takut Covid, saya pilih di rumah saja. Sekalipun terasa bosan juga berkurung selama tiga bulan ini, saya tidak punya pilihan lain. Apa boleh buat, harus dijalani.

Demi melawan kebosanan, saya yang saban pagi berjemur di sinar matahari, juga diisi dengan kegiatan lain: membaca, menulis, dan ada kalanya ber-WA dengan teman-teman. Tahulah saya sekarang betapa beratnya dulu nasib para pejuang kemerdekaan yang disingkirkan Belanda selama beberapa tahun, termasuk ke Boven Digoel, tempat bersarangnya malaria yang ganas. Jasa mereka untuk kemerdekaan bangsa ini sungguh tak ternilai, tetapi siapakah di antara kita yang masih mau mengingatnya?

Ya, Allah, maafkanlah segala kekurangan para pejuang kemerdekaan bangsa dengan segala pengorbanan mereka yang tak kenal lelah itu.  Sebagian mereka malah tidak sempat mengalami Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, semisal H.O.S. Tjokroaminoto yang wafat pada 1934 dan Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo yan wafat pada 1943. Saya baru tiga bulan saja berkurung, sudah begini pahit rasanya.

Bagi saya pengalaman bersama Covid-19 ini tidak akan pernah terlupakan, apalagi serbuan pandemi ini tidak pandang bulu. Si renta, pejabat tinggi, jenderal, rakyat jelata, dan bayi, semuanya diserang tanpa ampun. Bahaya cikungunya tidak sehebat Covid-19, sekalipun persendian dibuatnya setengah lumpuh, tetapi tidak mematikan. Demam berdarah dan Covid-19 jauh lebih berbahaya. Semoga wabah ini segera dapat diatasi dengan disiplin dan kesadaran bersama.

Sumber: Resonansi Republika

You may also like